IG Bonekamu IG Puter WA Bonekamu WA Puter
Kaos Gratis

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Video CNN Indonesia meliput Bonekamu

On 07:35:00

Kuantitas penjualan merupakan salah satu penentu besar kecilnya omzet dari sebuah bisnis. Hal ini yang dialami Pria asal Malang kelahiran 29 tahun silam. Ialah Syamsul Arifin yang menangkap peluang usaha dari bisnis boneka. Pria yang akrab disapa Syamsul ini memulai usaha bonekanya sejak tahun 2012.

Dengan modal usaha sepuluh juta rupiah yang ia tabungan dari hasil bisnis CCTVnya kini Syamsul bisa meraup omzet 160 juta rupiah setiap bulannya. Berbagai macam produk boneka yang diproduksi, dari aneka karakter kartun hingga makanan ringan. Kini Pria yang memiliki satu anak ini belum bisa masuk pasar modern dikarenakan terhambat oleh birokrasi regulasi. Sehingga Syamsul lebih memilih untuk ekspansi bisnis dengan memperbanyak toko-toko sederhana bonekamu.




Liputan Bisnis Anak Muda CNN di Bonekamu Selama 3 Hari

On 17:40:00

Pengambilan gambar di showroom produksi Bonekamu
Anak muda mulai berbisnis..?? Sebuah pertanyaan yang menjadi cita-cita anak-anak muda. Mengawali kreatifitas yang berguna untuk masyarakat sekitarnya serta mendatangkan finansial yang cukup menjanjikan. Salah satu program acara tv CNN ini menayangkan Bonekamu sebagai salah satu usaha bisnis yang dikelola oleh anak muda di Malang.

"Kami memilih Bonekamu karena ownernya yang masih muda dan mencapai titik seperti sekarang dengan sangat cepat," terang Ryan salah satu team CNN Indonesia yang datang ke Malang selama 3 hari untuk peliputan.

Team CNN Indonesia dan owner Bonekamu 
Team teliputan dari CNN datang di lokasi Bonekamu langsung mencari keterangan yang diperlukan dan menentukan spot lokasi pengambilan gambar. Sehingga tujuan pengambilan gambar lebih terarah. Beberapa kali pengambilan gambar di hari itu menjadi permulaan atau contoh untuk pengambilan gambar yang sesungguhnya di keesokan harinya.

Seluruh karyawan Bonekamu pun tidak canggung dalam menghadapi sorotan kamera, "ini pengambilan gambar ke dua yang dilakukan oleh tv media. Dulu pernah Malang TV ke sini dan melakukan pengambilan gambar. Jadi seluruh karyawan tidak merasa canggung atau heboh dengan kinerja team CNN Indonesia," terang Nuning salah satu staff jahit Bonekamu.

Pengambilan gambar sesungguhnya yang melibatkan seluruh team dan owner Bonekamu dilakukan pada tanggal 9 September hari Jumat mulai pukul 7:30 sampai 5 sore. "Proses pengambilan gambar yang cukup melelahkan. Karena program acaranya yang 25 menit sehingga diperlukan banyak pengambilan gambar. Mulai dari proses awal produksi sampai distribusi ke berbagai cabang kami." Terang Syamsul owner Bonekamu.

Owner Bonekamu di Youngster Inc Entrepreneur Majalah SWA

On 00:49:00

Syamsul Arifin, CEO Bonekamu, mengubah haluan bisnisnya dari bisnis CCTV menjadi produsen boneka. Dia jeli melihat peluang bisnis boneka yang sangat diminati pembeli eceran dan korporat. Bermodal Rp 5 juta, ia mampu membukukan omset hingga Rp 1,5 miliar per tahun. Pencapaiannya itu melalui proses yang tak kenal lelah dan cepat tanggap dalam menggarap celah bisnis.

Pengusaha yang berdomisili di Malang, Jawa Timur ini mengawali usahanya tahun 2012, walau pengalamannya minim di bisnis boneka. “Setelah berdiskusi dengan istri, kami sepakat menjadi reseller boneka lewat Internet. Kami menamakannya Bonekamu,” tutur Syamsul. Di tahap awal, dia menjual dan mempromosikan Bonekamu melalui media sosial dan situs belanja online. Alasannya, bisa menghemat biaya dan durasi kerja.

Belum genap setahun, alumni pesantren di Gontor ini malahan sudah bisa membuka toko di Jl. Gajayana, Malang pada Juni 2012. Dia membuka toko Bonekamu atas saran koleganya yang melihat tingginya minat masyarakat Malang terhadap boneka. “Modal awal hanya Rp 5 juta yang saya dapatkan dari hasil berbisnis CCTV,” kata Syamsul mengenang. Modalnya itu banyak yang tersedot untuk menyewa toko. Sebagian besar boneka yang dijual di tokonya merupakan boneka titipan dari kawan-kawannya. Harga jualnya cukup kompetitif dan mampu menyedot konsumen untuk membeli boneka di tokonya itu. Usahanya melaju pesat. Tokonya bertambah satu unit pada Desember 2012. Hingga akhir tahun itu, Bonekamu sudah mengelola dua toko di Malang.

Sebagai reseller, Syamsul hanya menerima konsinyasi dari setiap penjualan boneka yang dititipkan. Bisnis Bonekamu terus merangkak dari hari ke hari lantaran bonekanya laris manis dibeli konsumen. Dia menyisihkan keuntungannya untuk menambah modal kerja. Namun, Syamsul menahan diri untuk berekspansi lebih agresif. Ia menunggu momen yang tepat untuk memulai pengembangan bisnisnya. Berbicara hal ini, dia mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menggunakan labanya untuk mengepakkan sayap bisnisnya. “Kalau belum ada modal dan momennya, saya harus bersabar,” ia menegaskan.

Momen yang dinantinya terjadi di tahun 2013. Waktu itu, masyarakat mengalami demam emoticon aplikasi pesan di BlackBerry Messenger (BBM). Produsen boneka merespons tren itu dengan membuat boneka emoticon BBM dalam berbagai ekspresi, seperti tersenyum, sedih, dan tertawa. Toko Bonekamu bergerak lincah dalam menjaring cuan dengan menampung boneka emoticon BBM yang dipasok dari berbagai distributor.

Boneka model itu ludes dibeli konsumen. Saking larisnya, distributor yang menjadi mitra bisnis Syamsul malah kewalahan memenuhi permintaan pembeli. Melihat euforia ini, Syamsul memantapkan diri menjadi produsen boneka dan meninggalkan bisnis CCTV-nya, agar lebih fokus mengembangkan Bonekamu. Modal kerja dikucurkan Syamsul untuk membeli mesin jahit model lawas dan merekrut dua karyawan sebagai tenaga produksi. “Saya juga mendapat modal dari Kredit Usaha Rakyat,” ungkap pria kelahiran Malang, 3 April 1987 ini.

Rumah kediamannya menjadi pusat produksi. Pada tahap awal, berbagai kendala dihadapi, antara lain, kualitas jahitnya tidak memuaskan atau kewalahan mengerjakan pemesanan yang membludak jumlahnya. Dia menyiasatinya dengan menambah karyawan, membeli mesin, dan mempekerjakan tenaga paruh waktu. “Tentu saja, sebagai produsen boneka, kami memiliki mesin produksi. Investasi mesin cukup mahal karena nilainya mencapai Rp 200 juta,” Syamsul menerangkan.

Proses produksinya tidak begitu rumit. Setiap hari, Syamsul memeriksa ketersediaan bahan pembuatan boneka. Setelah itu, bahan boneka dibordir atau dicetak sesuai dengan pemesanan konsumen. “Proses yang terakhir adalah dijahit. Rata-rata setiap proses produksi memerlukan waktu dua-tiga minggu karena proses pemotongan hingga printing cukup memakan waktu yang cukup lama,” tuturnya. Pengerjaan boneka di pabrik menggabungkan proses manual dan teknologi mesin. Bonekamu memproduksi berbagai karakter tokoh animasi dan model yang dikembangkan oleh tim produksi.

Setiap hari kapasitas produksinya mencapai 200 boneka, atau 6 ribu boneka per bulan. “Produk andalan kami bantal leher yang kebanyakan dipesan perusahaan untuk suvenir,” kata Syamsul. Bantal leher dibuat dari kain velboa, bahan khusus boneka. Adapun bagian dalamnya menggunakan silikon tipe HCS level terbaik yang mudah dicuci dan antibakteri, sehingga lebih sehat dibanding produk sejenis yang biasanya diisi dengan campuran gabus dan kain perca. Harga satuan bonekanya dibanderol di kisaran Rp 30-40 ribu. “Rata-rata omset kami dalam setahun mencapai Rp 1,5 miliar,” ungkap Syamsul. Saat ini, Syamsul mampu mempekerjakan 17 pegawai sebagai staf produksi dan 8 staf administrasi toko. Jumlah tokonya bertambah empat unit, yaitu tiga unit di Malang dan satu toko di Yogyakarta.

Untuk pemasaran online, Syamsul memasarkan produknya di tiga situs yang kontennya dirancang khusus, yaitu bonekamu.com yang kontennya mengulas penjualan sekaligus pemasaran Bonekamu. Kemudian, bonekamu.co.id yang mengulas seluk-beluk di balik proses pengiriman, produksi, dan testimoni konsumen. Untuk memupuk kepercayaan konsumen, Syamsul senantiasa mengunggah foto pengemasan boneka yang dipesan pembelinya. Situs yang ketiga adalah bantalleher.net yang khusus mempromosikan boneka bantal leher yang menjadi produk unggulan Bonekamu. “Jadi kami membuat web khusus untuk bantal leher,” ucap Syamsul.

Langkah pemasaran itu berhasil menggaet pembeli dari berbagai daerah, antara lain kota-kota di Ja-Teng, Ja-Tim, Bandung, Bekasi, Garut, Indramayu, Karawang, Kuningan, Depok, Sukabumi, Tasikmalaya, Jakarta, hingga Makassar. Ke depan, Syamsul ingin mengembangkan Bonekamu menjadi merek ternama di industrinya. “Seperti halnya konsumen mengenal iPhone sebagai merek smartphone yang berkualitas. Begitu juga dengan Bonekamu sebagai merek yang dicari konsumen kalau mencari boneka,” katanya setengah berpromosi.

Sutiyono, yang sejak empat tahun lalu menjadi pelanggan dan reseller Bonekamu, mengemukakan, keunggulan Bonekamu adalah harganya terjangkau, bonekanya terbuat dari bahan berkualitas tinggi dan manajemen Bonekamu melayani pelanggannya hingga tuntas. Dia menyarankan pengelola Bonekamu menambah varian produknya, serta memperbarui model dan gambar boneka. “Terutama untuk produk bantal leher printing yang saat ini sedang digemari konsumen,” Sutiyono menyarankan.

http://swa.co.id/youngster-inc/entrepreneur-youngsterinc/syamsul-arifin-raih-omset-rp-15-miliar-dari-bisnis-boneka

Produksi bantal snack boomin hingga menjadi incaran media tv

On 04:13:00


Akhir-akhir ini bantal snack menjadi booming karena bentuknya yang unik dan lucu seperti makanan. Beberapa online shop pun berlomba menjual untuk mendapatkan keuntungan. Tak ayal, Bonekamu sebagai salah satu produsen boneka di Malang kebanjiran order bantal snack. Berbagai snack yang banyak macampun menjadi pilihan customer. Hingga Malang TV tertarik untuk berkunjung langsung ke tempat produksi Bonekamu yang terletak di Karangpandan Pakisaji Malang.
Malang TV datang di hari Sabtu 26 April 2014 pukul 13:00. Diawal kedatangannya, mereka melakukan wawancara singkat dengan pemilik Bonekamu.

Berbagai kegiatan untuk mengenalkan produksipun dilakukan bersama kru Malang TV. Mulai dari proses editing sebuah boneka, pemotongan kain yang dilakukan secara manual, proses penjahitan boneka, hingga proses pengisian dacron berkualitas terbaik (HCS) dan finishing.

"Dulu kami melakukan pemotongan dengan mesin pemotong elektrik. Tapi karena ibu-ibu di sini tidak berani menggunakannya karena tegangan yang tinggi, sehingga kami menambah pegawai muda untuk memotong bahan. Seiring dengan berjalannya waktu, kami sadar bahwa misi kami memang untuk membantu ibu-ibu sekitar, jadi mesin pemotong elektrikpun kami tinggalkan dan kembali ke manual. Karena dengan mesin itu ibu-ibu jadi tidak mendapatkan upah potong," terang Syamsul Arifin, pemilik produksi Bonekamu.

Setelah puas mengambil gambar di lingkungan produksi Bonekamu, Malang TV pun mengundurkan diri. Karena maraknya bantal snack dan Bonekamu sedang produksi bantal snack dala jumlah yang besar, merekapun mendapatkan kenang-kenangan bantal snack untuk keluarga di rumah.