IG Bonekamu IG Puter WA Bonekamu WA Puter
Donasi

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Santriwati Condong belajar jadi pengusaha di Bonekamu

On 18:22:00


Liburan pertengahan tahun tidak menjadikan satriwati pondok Condong Tasikmalaya berleha-leha dalam beraktifitas. Sebanyak 187 santriwati bersama asatidz belajar tentang kewirausahaan di rumah produksi Bonekamu Malang Jawa Timur. Dalam kegiatan yang diawali dengan study tour ke Pondok Modern Gontor Putri Mantingan ini melanjutkan perjalanan ke Malang tepat di hari ke 3.

"Sengaja kami memilih Bonekamu sebagai salah satu study kami, agar anak-anak bisa berkreasi dan tidak bingung untuk berwirausaha. Jadi selain diajarkan ilmu agama dan umum, anak-anak juga dibekali dengan ilmu terapan. Sehingga mereka bisa berkontribusi untuk masyarakat di sekelilingnya melalui berbagai lini kehidupan masyarakat," terang ust Nurohman salah satu pembimbing yang ikut serta di acara ini.

Kunjungan ke rumah produksi Bonekamu di Malang ini terselenggara pada hari Sabtu 30 Desember 2017. Rombongan yang menggunakan 3 bus besar dan 2 mobil apv ini datang tepat pada pukul 6.15 pagi hari. Dengan menggunakan seragam putih dan abu-abu, santriwati mengawali kegiatan di lokasi dengan sarapan pagi bersama. Dilanjutkan dengan pembelajaran kewirausahaan dan diakhiri dengan belanja boneka murah. Sehingga setiap peserta membawa pulang beberapa boneka dan bantal leher dengan puas.

Acara yang diakhiri pukul 9 pagi ini membawa kesan yang sangat berharga bagi kedua belah pihak. Karena beberapa kesamaan dengan owner Bonekamu yang sama-sama alumni Gontor, sehingga ajang study wisata ini menjadi temu kangen silaturrahmi.

Semoga ilmu yang diberikan dapat bermanfaat untuk kemajuan bersama. Dan menjadikan lebaga Riyadhul Ulum Wadda'wah selalu sukses dalam mendidik generasi-generasi islam untuk kebangkitan bangsa. Amin


Mulai dari potong, jahit sampai finishing anak Tazkia di Bonekamu

On 23:19:00


Belajar berbisnis sambil mengetahui pembuatannya sangat menyenangkan bagi anak Tazkia. Setelah mendengarkan penjelasan dari Bapak Syamsul Arifin selaku pemilik usaha boneka, anak Tazkia menyaksikan serta dapat terjun langsung dengan pembuatan boneka. Mulai dari pemotongan kain hingga menjahit mereka melihat serta belajar bersama pegawai bonekamu.

"Belajar membuat boneka membutuhkan ketelitian dan ketelatenan ini menguji kita untuk bersabar," terang salah satu siswi Tazkia ketika belajar memotong. Awalnya mereka grogi dan takut salah ketika mau memotong kain, dengan bimbingan pegawai di bonekamu membuat mereka percaya diri dan tidak takut untuk memotong kain.

Setelah belajar memotong kain di lanjutkan dengan menjahit kain, "ketika proses menjahit kain saya hanya bisa melihat saja karena menjahit kain harus orang yang sudah bisa menjahit dan butuh waktu lama untuk belajar," jelas hafidah salah satu siswi Tazkia. Saat proses finishing anak Tazkia juga ikut membantu dalam proses finishing. Proses finishing kita bisa membantu karena butuh waktu yang tidak lama unuk belajar.

"Alhamdulillah kunjungan kami di Bonekamu sangat menyenangkan kami dapat mengetahui ilmu tentang membuka sebuah bisnis yang di ridhoi allah, "terang salah satu siswi tazkia.
"Mulai dari potong, jahit sampai finishing kita menyaksikan secara langsung  terima kasih Bonekamu," ucap bersorak ketika kunjungan mau selesai.



Kunjungan Santri Gontor ke rumah produksi Bonekamu

On 23:59:00



 Kunjungan para santri dari pondok pesantren Darusallam Gontor ke rumah produksi Bonekamu bertujuan untuk belajar berwirausaha. Belajar mulai dari awal usaha sampai mendapat omset yang bertahap. Kunjungan seperti ini membuat para santri senang karena mendapat ilmu kewirausahaan langsung dari produksinya.

Dalam sebuah pondok pesantren memang juga perlu pembelajaran berwirausaha sehingga memilki semangat dalam mencapai tujuan yang seimbang dunia dan di akhirat. Juga memberikan gambaran tentang bagaimna mana memulai berbisnis agar dapat mengerti dan mempunyai tambahan semngat untuk berwirausaha. Dalam kunjungan ini ada salah satu santri bertanya mengapa memilih usaha boneka, maka dijelaskan ketika berwirausaha kita harus memilih usaha yang semua orang memerlukan dan usaha itu tidak ada musimnya serta banyak yang suka.

Setelah menjelaskan bagaimana cara berwirausaha, para santri di bebaskan untuk bertanya-tanya kepada pegawai di rumah produksi serta di bebaskan untuk melihat hasil boneka produksi Bonekamu. Kunjungan ini sangat bermanfaat bagi para santri serta produksi. para santri banyak yang membeli berbagai jenis boneka da bisa langsung lihat bagaimna pembuatannya. itu membuat para santri tau kualitas boneka di rumah produksi Bonekamu.

Pada awalnya pemilik usaha P. Syamsul Arifin mengawali dengan mencoba berbisnis penjualan laptop dan kelengkapan komputer. Dilanjutkan berbisnis CCTV  hingga sering mendapat project pemasangan CCTV di seluruh kota Jawa Timur. Baik dari instansi pemerintahan, bank, koperasi, sekolah, atau individu.





Pondok Pesantren Darussalam Gontor belajar Usaha bersama Bonekamu

On 18:36:00




Belajar usaha bersama di Bonekamu menjadikan para santri putra dan santri putri Pondok pesantren Darussalam datang ke rumah produksi Bonekamu. Belajar  berwirausaha yang dilakukan secara bertahap. Sehingga menjadikan para santri tahu bagaimna produksi boneka serta mengetahui cara berbisnis. Mulai dari awal melangkah mendirikan usaha bagaimana cara berbisnis secara halal dan menjadikan usahanya tetap menjadi barokah.

Seperti halnya para santri pondok Darussallam yang datang pada hari jum'at dan hari sabtu 19-20 mei 2017. Kedatangan para santri tidak bersamaan antara santri putri dan santri putra. Para santri putri datang lebih awal dan di pagi hari membuat mereka bisa mengetahui bagaimana proses produksi secara langsung. Salah Satu Santri putri bertanya kepada pegawai produksi"Berapa lama ibu dalam pembuatan boneka ini". Bu Rina menjawab" tidak tentu mbak tergantung pemesanannya".
Setelah melihat-lihat bagaimana proses produksi boneka dalam pembelajaran santri mulai di jelaskan bagaimana awal mula usaha bonekamu, bukan hanya itu para santri juga diberi kesempatan untuk bertanya-tanya kepada P.Syamsul Arifin selaku pemilik usaha bonekamu.

Dalam acara belajar bisnis ini tujuannya membuat para santri semangat dalam belajar agar mencapai kehidupan yang mulia di dunia serta di akhirat. Karena kebanyakan santri dalam mendapat ilmu pengetahuan tentang wirausaha itu sangat jarang. Manfaat diadakannya kunjungan usaha para santri ini yakni menciptakan wirausahawan yang jujur serta amanah.

Memang dalam berbisnis atau melakukan sebuah usaha memilki waktu yang secara bertahap, tapi itu memerlukan keuletan dalam berusaha. Seperti yang di ketahui pemilik usaha Bonekamu mengawalinya dengan mencoba berbisnis menjual laptop dan kelengkapan komputer serta database secara online.Bukan hanya itu usaha yang kedua yakni mulai berkecimpung di produk CCTV sehingga memilki project memasang CCTV di bank, instansi pemerintahan serta di sekolah.





















Video CNN Indonesia meliput Bonekamu

On 07:35:00

Kuantitas penjualan merupakan salah satu penentu besar kecilnya omzet dari sebuah bisnis. Hal ini yang dialami Pria asal Malang kelahiran 29 tahun silam. Ialah Syamsul Arifin yang menangkap peluang usaha dari bisnis boneka. Pria yang akrab disapa Syamsul ini memulai usaha bonekanya sejak tahun 2012.

Dengan modal usaha sepuluh juta rupiah yang ia tabungan dari hasil bisnis CCTVnya kini Syamsul bisa meraup omzet 160 juta rupiah setiap bulannya. Berbagai macam produk boneka yang diproduksi, dari aneka karakter kartun hingga makanan ringan. Kini Pria yang memiliki satu anak ini belum bisa masuk pasar modern dikarenakan terhambat oleh birokrasi regulasi. Sehingga Syamsul lebih memilih untuk ekspansi bisnis dengan memperbanyak toko-toko sederhana bonekamu.




Owner Bonekamu di Youngster Inc Entrepreneur Majalah SWA

On 00:49:00

Syamsul Arifin, CEO Bonekamu, mengubah haluan bisnisnya dari bisnis CCTV menjadi produsen boneka. Dia jeli melihat peluang bisnis boneka yang sangat diminati pembeli eceran dan korporat. Bermodal Rp 5 juta, ia mampu membukukan omset hingga Rp 1,5 miliar per tahun. Pencapaiannya itu melalui proses yang tak kenal lelah dan cepat tanggap dalam menggarap celah bisnis.

Pengusaha yang berdomisili di Malang, Jawa Timur ini mengawali usahanya tahun 2012, walau pengalamannya minim di bisnis boneka. “Setelah berdiskusi dengan istri, kami sepakat menjadi reseller boneka lewat Internet. Kami menamakannya Bonekamu,” tutur Syamsul. Di tahap awal, dia menjual dan mempromosikan Bonekamu melalui media sosial dan situs belanja online. Alasannya, bisa menghemat biaya dan durasi kerja.

Belum genap setahun, alumni pesantren di Gontor ini malahan sudah bisa membuka toko di Jl. Gajayana, Malang pada Juni 2012. Dia membuka toko Bonekamu atas saran koleganya yang melihat tingginya minat masyarakat Malang terhadap boneka. “Modal awal hanya Rp 5 juta yang saya dapatkan dari hasil berbisnis CCTV,” kata Syamsul mengenang. Modalnya itu banyak yang tersedot untuk menyewa toko. Sebagian besar boneka yang dijual di tokonya merupakan boneka titipan dari kawan-kawannya. Harga jualnya cukup kompetitif dan mampu menyedot konsumen untuk membeli boneka di tokonya itu. Usahanya melaju pesat. Tokonya bertambah satu unit pada Desember 2012. Hingga akhir tahun itu, Bonekamu sudah mengelola dua toko di Malang.

Sebagai reseller, Syamsul hanya menerima konsinyasi dari setiap penjualan boneka yang dititipkan. Bisnis Bonekamu terus merangkak dari hari ke hari lantaran bonekanya laris manis dibeli konsumen. Dia menyisihkan keuntungannya untuk menambah modal kerja. Namun, Syamsul menahan diri untuk berekspansi lebih agresif. Ia menunggu momen yang tepat untuk memulai pengembangan bisnisnya. Berbicara hal ini, dia mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menggunakan labanya untuk mengepakkan sayap bisnisnya. “Kalau belum ada modal dan momennya, saya harus bersabar,” ia menegaskan.

Momen yang dinantinya terjadi di tahun 2013. Waktu itu, masyarakat mengalami demam emoticon aplikasi pesan di BlackBerry Messenger (BBM). Produsen boneka merespons tren itu dengan membuat boneka emoticon BBM dalam berbagai ekspresi, seperti tersenyum, sedih, dan tertawa. Toko Bonekamu bergerak lincah dalam menjaring cuan dengan menampung boneka emoticon BBM yang dipasok dari berbagai distributor.

Boneka model itu ludes dibeli konsumen. Saking larisnya, distributor yang menjadi mitra bisnis Syamsul malah kewalahan memenuhi permintaan pembeli. Melihat euforia ini, Syamsul memantapkan diri menjadi produsen boneka dan meninggalkan bisnis CCTV-nya, agar lebih fokus mengembangkan Bonekamu. Modal kerja dikucurkan Syamsul untuk membeli mesin jahit model lawas dan merekrut dua karyawan sebagai tenaga produksi. “Saya juga mendapat modal dari Kredit Usaha Rakyat,” ungkap pria kelahiran Malang, 3 April 1987 ini.

Rumah kediamannya menjadi pusat produksi. Pada tahap awal, berbagai kendala dihadapi, antara lain, kualitas jahitnya tidak memuaskan atau kewalahan mengerjakan pemesanan yang membludak jumlahnya. Dia menyiasatinya dengan menambah karyawan, membeli mesin, dan mempekerjakan tenaga paruh waktu. “Tentu saja, sebagai produsen boneka, kami memiliki mesin produksi. Investasi mesin cukup mahal karena nilainya mencapai Rp 200 juta,” Syamsul menerangkan.

Proses produksinya tidak begitu rumit. Setiap hari, Syamsul memeriksa ketersediaan bahan pembuatan boneka. Setelah itu, bahan boneka dibordir atau dicetak sesuai dengan pemesanan konsumen. “Proses yang terakhir adalah dijahit. Rata-rata setiap proses produksi memerlukan waktu dua-tiga minggu karena proses pemotongan hingga printing cukup memakan waktu yang cukup lama,” tuturnya. Pengerjaan boneka di pabrik menggabungkan proses manual dan teknologi mesin. Bonekamu memproduksi berbagai karakter tokoh animasi dan model yang dikembangkan oleh tim produksi.

Setiap hari kapasitas produksinya mencapai 200 boneka, atau 6 ribu boneka per bulan. “Produk andalan kami bantal leher yang kebanyakan dipesan perusahaan untuk suvenir,” kata Syamsul. Bantal leher dibuat dari kain velboa, bahan khusus boneka. Adapun bagian dalamnya menggunakan silikon tipe HCS level terbaik yang mudah dicuci dan antibakteri, sehingga lebih sehat dibanding produk sejenis yang biasanya diisi dengan campuran gabus dan kain perca. Harga satuan bonekanya dibanderol di kisaran Rp 30-40 ribu. “Rata-rata omset kami dalam setahun mencapai Rp 1,5 miliar,” ungkap Syamsul. Saat ini, Syamsul mampu mempekerjakan 17 pegawai sebagai staf produksi dan 8 staf administrasi toko. Jumlah tokonya bertambah empat unit, yaitu tiga unit di Malang dan satu toko di Yogyakarta.

Untuk pemasaran online, Syamsul memasarkan produknya di tiga situs yang kontennya dirancang khusus, yaitu bonekamu.com yang kontennya mengulas penjualan sekaligus pemasaran Bonekamu. Kemudian, bonekamu.co.id yang mengulas seluk-beluk di balik proses pengiriman, produksi, dan testimoni konsumen. Untuk memupuk kepercayaan konsumen, Syamsul senantiasa mengunggah foto pengemasan boneka yang dipesan pembelinya. Situs yang ketiga adalah bantalleher.net yang khusus mempromosikan boneka bantal leher yang menjadi produk unggulan Bonekamu. “Jadi kami membuat web khusus untuk bantal leher,” ucap Syamsul.

Langkah pemasaran itu berhasil menggaet pembeli dari berbagai daerah, antara lain kota-kota di Ja-Teng, Ja-Tim, Bandung, Bekasi, Garut, Indramayu, Karawang, Kuningan, Depok, Sukabumi, Tasikmalaya, Jakarta, hingga Makassar. Ke depan, Syamsul ingin mengembangkan Bonekamu menjadi merek ternama di industrinya. “Seperti halnya konsumen mengenal iPhone sebagai merek smartphone yang berkualitas. Begitu juga dengan Bonekamu sebagai merek yang dicari konsumen kalau mencari boneka,” katanya setengah berpromosi.

Sutiyono, yang sejak empat tahun lalu menjadi pelanggan dan reseller Bonekamu, mengemukakan, keunggulan Bonekamu adalah harganya terjangkau, bonekanya terbuat dari bahan berkualitas tinggi dan manajemen Bonekamu melayani pelanggannya hingga tuntas. Dia menyarankan pengelola Bonekamu menambah varian produknya, serta memperbarui model dan gambar boneka. “Terutama untuk produk bantal leher printing yang saat ini sedang digemari konsumen,” Sutiyono menyarankan.

http://swa.co.id/youngster-inc/entrepreneur-youngsterinc/syamsul-arifin-raih-omset-rp-15-miliar-dari-bisnis-boneka